CIANJUR.JABAROKE.COM – Peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 mengunjungi Kampung Pramuka Cemara di Kelurahan Tugu Utara, Jakarta Utara, pada Minggu (25/10), untuk mempelajari pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat langsung praktik pengolahan sampah melalui bank sampah, pemanfaatan sampah organik, hingga sistem pembayaran biaya pendidikan anak usia dini (PAUD) menggunakan sampah.
Kunjungan ini merupakan bagian dari tur edukasi WYC 2026 ke tiga lokasi di Jakarta, yakni Monumen Nasional (Monas), kawasan Kota Tua, dan Kampung Pramuka Cemara. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar mengenai sejarah perjuangan bangsa, perkembangan Jakarta, serta inisiatif masyarakat dalam mengelola lingkungan.
Berkolaborasi dengan Gerakan Pramuka Jakarta Utara, Kampung Pramuka Cemara mengembangkan berbagai kegiatan edukasi lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi pengelolaan bank sampah, pemanfaatan sampah organik, budidaya ikan, hidroponik, hingga BKB Greens PAUD yang menerapkan pembayaran biaya pendidikan menggunakan sampah organik.
Kampung Pramuka Cemara meraih penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat Provinsi DKI Jakarta pada 2022. Proklim merupakan program yang mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, yang di DKI Jakarta dijalankan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Salah satu penggerak Kampung Pramuka Cemara, Dani Arwanto, menjabat sebagai ketua pengurus kawasan tersebut. Atas kiprahnya dalam pelestarian lingkungan, Dani juga menerima penghargaan Kalpataru pada 2023.
Dani mengatakan Kampung Pramuka Cemara dikembangkan sebagai sarana edukasi agar generasi muda memperoleh pengalaman langsung tentang pentingnya menjaga dan mengelola lingkungan.
“Kami di sini berkolaborasi dengan Gerakan Pramuka Jakarta Utara, dan kami percaya bahwa kolaborasi ini bisa meneruskan edukasi kepada generasi muda ke depannya. Kegiatan lingkungan itu tidak mudah dan sangatlah berat, sehingga Kampung Pramuka ini menjadi sarana untuk memberikan pengalaman dan edukasi kepada generasi muda,” ujar Dani.
Menurut Dani, kegiatan pengelolaan lingkungan dapat melatih kesabaran dan kreativitas sekaligus membuka peluang usaha. Keterlibatan generasi muda diperlukan agar potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pengalaman tersebut menginspirasi Muhammad Iqbal, peserta WYC 2026 asal Kalimantan Selatan. Ia menilai sistem bank sampah dan pemanfaatan sampah organik untuk membayar biaya pendidikan dapat diterapkan di daerah lain.
“Yang bisa diambil yaitu pengolahan sampah. Teman-teman di sini mengumpulkan sampah melalui bank sampah. Selain itu, ada BKB Greens PAUD yang pembayarannya tidak menggunakan uang, melainkan sampah organik. Jadi, hal ini bisa kita bawa ke daerah bahwa sampah itu bisa kita berdayakan, khususnya untuk pendidikan juga,” kata Iqbal.
Devira, peserta asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, juga tertarik mempelajari sistem tabungan sampah tersebut untuk diterapkan di daerah asalnya.
“Anak-anak PAUD bisa membayar biaya sekolah menggunakan tabungan sampah. Ini menjadi hal yang ingin saya pelajari dan coba terapkan di daerah saya, Sumbawa,” ujarnya.
Sementara itu, Anggi, peserta lainnya, menilai kunjungan tersebut memberinya wawasan baru tentang potensi sampah untuk menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat apabila dikelola dengan baik.
Fasilitator kegiatan, Fadmanegara, mengatakan kunjungan tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pengelolaan sampah yang memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Melalui kunjungan ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berharap peserta WYC 2026 terinspirasi untuk mengembangkan inisiatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat di daerah masing-masing. Praktik di Kampung Pramuka Cemara menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan sosial, termasuk pendidikan anak.
Wirasena Youth Camp 2026 berlangsung pada 21–31 Oktober 2026 dan menjadi bagian dari rangkaian program kepemudaan Kemenpora menjelang Indonesia Youth Summit 2026 pada 29–30 Oktober.(***)

















